Senin, 03 Oktober 2016

KAYA INSTAN BOLEH KAH DALAM ISLAM

Assalamualaikaum warahmatullahibaraktuh...
       Alhamdulilah puji syukur kepada Allah Subhanahuwataa'la, pemberi rezeki tanpa pandang bulu, pemberi harta yang kita terima dan pemberi keni'matan yang tiada tara..Shalawat dan salam tak lupa kita limpahkan kekhadirat baginda alam, Rasul penerang zaman, dan pemimpin penuntun keselamatan dunia dan akhirat....

       Barakallah apa kabar sahabat musli8m semua? semoaga kita aada dalam lindungan Allah Swt, Amiin, ya rab...
      Baru -baru ini pemberitaan media kita sedang tertuju pada ,"PADEPOKAN DIMAS KANJENG" ,  Aawal mula saya sangat penasaran sebenarnya apa itu padepokan dimas kanjeng,  singkat cerita , padepokan dimas kanjeng adalah padepokan tempat berkumpul sekumpulan orang yang inigin cepat kaya denga cara sangat instan , Masya Allah ,,, Allahu akbar,
   
     Coba bayangkan siapa yang tidak mau, cepet kaya, tidak usah kerja  , berbau agama lagi, itu kan namanya senang di dunia dan juga senang di akhirat
dan akhirnya banyaklah yg datang ke padepokan tersebut,  sebagai informasi padepokan tersebut didirikan oleh 3 orang , yaitu , TAAT PRIBADI , ABDUL GANI  dan ISMAIL HIDAYAN.
saya tidak akan membahas, kejadian ayng terjadi yaitu peristiwa pembunuhan yang menimpa pendiri 2 pendiri padepoka tersebut yaitu Abdul gani dan Ismail hayan, tapi kami mencoba memberika pandangan ISlam tentang padepokan tersebut dan apa kegiatanya , sebagaai gambara silahkan simak cerita


Pernah terjadi perbedaan pendapat antara kedua Imam Besar Madzhab, Imam Malik dan Imam Syafi'i tentang rezeki. Imam malik berpendapat bahwa adanya rezeki itu tidak membutuhkan sebab, bahkan hanya dengan tawakkal yang benar kepada Allah manusia diberi rezeki. Beliau memandang dan bersandar pada Hadits :
لو توكلتم على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا
"Jika kalian bertawakkal pada Allah dengan tawakkal yang benar, pasti Dia akan memberimu rezeki seperti Dia memberi rezeki burung yang terbang mencari pangan dalam keadaan perut kosong dan kembali dengan kenyang"
Sedangkan Imam Syafi'i, memandang dari sisi lain, bahwa "jika burung itu tidak pergi dan kembali, ya tidak akan mendapat rezeki", yakni memang harus ada usaha.
Mereka tetap berpendapat masing-masing, Imam Malik memandang sisi awal hadits, dan murid beliau, Imam Syafi'i memandang dari sisi akhirnya.
Pada suatu hari, sang murid (Imam Syafi'i) ingin mencari kebenaran akan pendapat gurunya, Imam Malik. Akhirnya beliau bingung dan berpikir di luar, tiba-tiba Imam Syafi'i bertemu dengan seorang yang tua renta berjalan membawa bungkusan berisi kurma yang banyak dan berat, sehingga Imam Syafi'i berkehendak untuk menolongnya.
"Biar saya saja yang bawa, Pak. Saya antarkan ke rumah Anda" kata beliau.
Setelah sampai di rumahnya, pak tua tersebut memberi Imam Syafi'i sebagian dari kurma itu sebagai rasa terima kasih telah membantu.
Seketika, hati Imam Syafi'i bergejolak dan berkata "Nah, sekarang benar kan pendapatku, kalau aku tidak menolongnya membawakan bungkusan itu aku tidak akan mendapat kurma ini!".
Lalu beliau cepat-cepat menuju sang guru dan beliau juga membawa kurmanya sebagai bukti sekaligus 'hadiah' untuk sowan kepada Imam Malik. Setelah menceritakan apa yang terjadi, Imam Malik tersenyum dan mengambil satu buah kurma yang dibawanya lalu diletakkan di mulut beliau, sambil berkata :
"Nah, kau membawakanku Rezekiku kesini tanpa susah payah aku berusaha :)"
-----
Intinya, kedua Imam Besar ini beristinbath dari satu hadits dua hukum yang berbeda, dan yang jelas ini merupakan Rahmat dari Allah. Sebab jika harus tawakkal, orang biasa sulit bisa, dan jika harus berusaha, banyak kok yang terjadi tanpa usaha.
-----
~Sebaliknya, Kisah Ibrahim bin Adham Ra.~
Diceritakan bahwa : suatu hari Ibrahim bin Adham dalam suatu perjalanan untuk perdagangan, dan beliau adalah pembisnis yang sukses.
Di tengah jalan, beliau menemukan seekor burung yang patah sayapnya, tidak bisa terbang dan terpuruk di tempatnya. Seketika beliau menyuruh berhenti rombongannya.
"Demi Allah, aku mau melihat akankah ada burung yang mendatanginya membawa makanan atau akankah dia mati". Ucap beliau.
Setelah menunggu lama, tiba-tiba datang seekor burung lalu dia menempelkan paruhnya ke paruh burung yang sakit itu, iya, dia memberinya makanan.
Sontak saja, Ibrahim bin Adham langsung berikrar bahwa ia akan meninggalkan bisnisnya dan duduk tenang di rumah dengan terus beribadah kepada Allah, sebab ia telah menyaksikan Sifat DermawanNya dan Pemberian RezekiNya yang tanpa diduga-duga.
Kemudian kabar tersebut sampai dan didengarlah oleh Imam as-Syibli (seorang sufi yang zuhud juga pada masanya). Lalu beliau mendatanginya dan berkata :
"Loh, kenapa kamu kok meninggalkan daganganmu dan duduk di rumahmu seperti ini?"
Ibrahim bin Adham pun menceritakan kisah yang dialaminya tentang perihal burung saat itu. Lalu as-Syibli menjawab dengan ucapannya yang mengena dan terkenang :
"Hei Ibrahim! Kenapa kau malah memilih menjadi burung yang lemah itu bukan memilih menjadi burung yang membawakannya makan???"
----
Mungkin yang dimaksud oleh Imam as-Syibli adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh :
المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف... الحديث
"Seorang mukmin yang kuat (mampu) lebih baik dan lebih Allah suka daripada seorang mukmin yang lemah..." Al Hadits.
---
Sebagai penengah, Syeikh Mutawalli as-Sya'rowi pernah berkata : " al-Jawarihu ta'mal, wal Qulub tatawakkal "
Yakni, Tubuh harus tetap berusaha tanpa menyerah, tapi hati, selalu tawakkal pasrah!
 
    Membaca kisah tersebut sudah barang tentu, dan insyaa Allah pembaca sudah bisa menyimak dan menghukumi secara tegas bagaimana padepokan tersebut,
   Dalam sebuah laporan yang di terbitkan oleh kepolisian setempat, menyatakan bahwa pengasuh padepokan tersebut yaitu, TAAt PRIBADI bisa mengggandakn uang emas, dan perhiasan lainya, Masya Allah, ..... Lalu penjelasan logis seperi apa yang bisa dijelaskan dalm kasus ini, sebagai umat muslim, kita percaya bahwea Allah saw, tidak hasnya menciptakan manusia saja di muka bumi ini masih banyak lainya, sebagaimana dikutip dalam surat     “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.Adz Dzariat : 56-58)

Ayat tersebut digunakan dalil sebagai penjelas tugas penciptaan manusia sekaligus penegasan tentang Allah menciptakan jin selain manusia yang mempunyai tugas dan fungsi yang saama,

    Lalu apa hubungan Padepokan DIMAS KANJENG dengan aya tersebut, tidak lain adalh penulis ingin memberikan pencerahan kenapa d TAAt pribadi bisa melakukan ( menggandakan uang ) .
1 .  logika pertama adalh , trik mata  ( Sulap ) 
      kenapa logika ini bisa menjadi daftar kemungkina yang pertama, karena dalam sebuah acara di stasiun tv , seorang pesulap bernama Demian memperlihatkan trtik penggandaaan bar
ang dalam hal ini uang, dan ternyata bukan penggandaaan uang yang terjadai namun hanya berupa pengulangan jumlah uang  yang dikembalikan ketempat asal dengan gerakan yag cukup cepat
2.   Logika bekerjasama dengan jin ( Pesugihan)
      Bagi kita umat muslim percaya bahwa segala sesuatu  itu datangnya dari Allah, dan Allah pulalah yang memberiakan segala sesuatu, karena TIDAK ADA ADA UPAYA MELAINKAN KARENA ALLAH SWT .  logika ini mengemuka karena TAAT PRIBADI memperlihatkan daLAM SEBUAH VIDEO dia bisa mengeluarkan uang dari dalam jubah dan dompet yang mengeluarakan perhiasan tanpa habis habis, lalu benarkah ia bekerja sam dengan jin? bisa ya dan juga tidak , wallahu a'lam .karena sesuai ayat di atas tersebut jelas Allah menciptakan jin, mahluk gaib atau makhluk halus lainya. lalu bagaimana hkumnya ? sudah barang tentu haram dan musryilk hukumnya meminta selain kepda Allah.   ...
3. logika uang kertas palsu
      Logika ketiga adalh logika uang palsu, hal ini diperkuat oleh pernyataan kepolisiasn setempat yang menyatakan , bahwa sebagian uang tersebut adalah uang palsu, jadi jangan terkejut dahulu melihat tumpukan uang di sebuah bunker tersebut karena sebagian adalah uang palsu,

intisari dari tulisan di atas adalh , kita jangan percaya kepada terhadap sesuatu yang instan yang diluar nalar manusia, dan keluar dari ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah swt,

semoga Allah selalu senantiasa memberkati kita semua Amiiin...........
 


Sabtu, 01 Oktober 2016

MEMILIH PEMIMPIN MUSLIM ATAU NON MUSLIM



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
         Beberapa bulan ke belakang, saya mendapati pertanyaan mengenai bagaimana hukumnya memilih ORANG NON MUSLIM, untuk memimpin daerah yang komunitas penduduknya beragama muslim?

Namun sebelum saya, memberikan sebuah keterangan , ada beberapa faktor , yang coba saya kedepankan
kenapa ada pertanyaan semacam ini, yaitu pertanyaan MEMILIH PEMIMPIN NON MUSLIM,
ada baiknya anda menyimak pernyataan tersebut

 Al-Mawardi dalam Al-Ahkamus Sulthoniyah menguraikan lebih rinci. Menurutnya, kekuasaan dibagi setidaknya menjadi dua, tafwidh dan tanfidz. Kuasa tafwidh memiliki cakupan kerja penanganan hukum dan analisa pelbagai kezaliman, menggerakkan tentara dan mengatur strategi perang, mengatur anggaran, regulasi, dan legislasi. Untuk pejabat tafwidh, Al-Mawardi mensyaratkan Islam, pemahaman akan hukum agama, merdeka.

Sementara kuasa tanfidz (eksekutif) mencakup pelaksanaan dari peraturan yang telah dibuat dan dikonsep oleh pejabat tafwidh. Tidak ada syarat Islam, alim dalam urusan agama, dan merdeka.
















Manakah yang mesti dipilih jika ada dua pilihan. Ada calon pemimpin yang muslim namun suka bermaksiat, ataukah non muslim yang dikatakan bersih dan adil?
Yang jelas, tidak pantas non muslim menguasai rakyat yang mayoritas muslim. Kenapa demikian?
Karena memang Allah melarangnya. Islam itu tinggi, artinya di atas, bukan di bawah, bukan berada dalam kekuasaan non muslim. Sangat tidak pantas Islam yang mulia ini malah dikuasai oleh non muslim.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141)
Memang pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan non muslim sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,
وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy.” (HR. Bukhari no. 2264). Namun ingat itu dipekerjakan, bukan berada di atas, bukan sebagai pemimpin.


Kita dapat ambil pelajaran dari perkataan ‘Abdullah bin Mas’ud berikut ini.
Ibnu Mas’ud berkata,
لأَنْ أَحْلِفَ بِاللَّهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأنَا صَادِقٌ
“Aku bersumpah dengan nama Allah dalam keadaan berdusta lebih aku sukai daripada aku jujur lalu bersumpah dengan nama selain Allah.” (HR. Ath Thobroni dalam Al Kabir. Guru kami, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata bahwa sanad hadits ini shahih).
Kata Syaikh Sholeh Al Fauzan, di antara faedah dari hadits di atas adalah bolehnya mengambil mudarat yang lebih ringan ketika berhadapan dengan dua kemudaratan. (Al Mulakhos fii Syarh Kitabit Tauhid, hal. 328).
Kaedah dari pernyataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah,
اِرْتِكَابُ أَخَفِّ المفْسَدَتَيْنِ بِتَرْكِ أَثْقَلِهِمَا
“Mengambil mafsadat yang lebih ringan dari dua mafsadat yang ada dan meninggalkan yang lebih berat.” (Fathul Bari, 9: 462)
Dalam kitab yang sama, Ibnu Hajar juga menyatakan kaedah,
جَوَازُ اِرْتِكَابِ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ
“Bolehnya menerjang bahaya yang lebih ringan.” (Fathul Bari, 10: 431)
Kalau kita bandingkan saat mesti memilih antara pemimpin muslim yang gemar maksiat dengan pemimpin non muslim yang jujur dan adil, maka tetap saja pemimpin muslim lebih utama untuk dijadikan pilihan. Mudaratnya tentu lebih ringan. Apa alasannya?
Alasan pertama, kita tidak boleh mengambil pemimpin dari orang kafir. Alasan kedua, kita akan lebih mudah dalam menjalani agama karena pemimpin semacam itu lebih mengerti akan kebutuhan kaum muslimin. Alasan ketiga, non muslim tidak mudah menindas kaum muslimin atau menyebar ajaran mereka.
Kezaliman yang dilakukan oleh pemimpin muslim misalnya dengan korupsi, itu adalah kesalahannya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas tindak jeleknya. Namun agama kita pasti akan lebih selamat dan orang muslim pun akan peduli pada sesama saudaranya. Beda halnya dengan non muslim. Muslim yang bermaksiat masih lebih mending, berbeda dengan non muslim yang diancam akan kekal di neraka.
Jadi bagi yang masih mengatakan pemimpin non muslim itu lebih baik, berpikirlah dengan nalar yang baik dan banyak mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah menyebut non muslim  dalam ayat berikut ini,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6). Ini firman Allah loh yang tidak mungkin keliru. Beda kalau tidak percaya akan wahyu.
Loyalitas seorang muslim haruslah kepada sesama muslim bukan kepada yang berlawanan agama dengannya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51)
Dalam ayat lain disebutkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS. Al Mumtahanah: 1)

Lalu apa faktor  penyebabnya orang Muslim mempunyai Pemikiran Memilih pemimpin non muslim itu lebih bai, diantaranya adalah :
 1. PEMAHAMAN AGAMA YANG BELUM MAKSIMAL
          Dengan segala hormat, dan tidak ada maksud untuk menganggap remeh seseorang atau suatu kaum,
     tapi, tidak bisa dipungkiri pemahaman yang lemah tentang islam, membuat saeseorang  beranimenganggap     dan mengangkat pemimpin non muslim untuk dirinya dalam segala hal,
2. SAKIT HATI TERHADAP PEMIMPIN MUSLIM TERDAHULU
          Faktor yang lain adlah , sebagian masyarakat merasa sakit hati, karena pemimpin muslim yang mereka pilih terdahulu tidak bisa memberikan kontribusi yang signifikan, entah itu karena komptensi , ataupun karena karena terserat kasus , entah itu korupsi, asusila dan lain halnya, sehingga ada anggapan yang berdar dalm masyarakat, sepanjang apapun jenggotnya, sehitam apapun dahinya , kalau sudah berhadapan dengan harta , taahta wanita, sama saja, Naau'dzubillah.
3   MEDIA
       Di era globalisai ini, kita tidak bisa mengingkarinya dan menafikanya , seagala informasi dan pengetahuan dapat di akses dengan mudahnya, ditambah lagi peran media yang begitu ( TV, internet ,koran ) yang menjadi acuan sebagian besar masyarakat Indonesia, anekdotnya  Andaikata anda masuk tv ( berita) maka yakinlah anda, anda kan terkenal, kemudian andai kata pemberitaaan yang baik mengenai anda maka anda akan dengan mudah menjadi selebritis , superstar bahkan pemimpin,
padahal jika masyarakat indonesia jeli, masih banyak pemimpin Indonesia yang berkualitas baik dari segi kompetensi ( kemampuan ) maupun sikap dan perilakunya sebagai contoh majalh tempo edisi 10 desember 2012
Penghargaan tujuh tokoh kepala daerah itu diberikan kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Keerom Yusuf Wally, Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung, Wali Kota Sawahlunto Amran Nur, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, Bupati Wonosobo Abdul Kholiq Arif, dan Wali Kota Banjar Herman Sutrisno. di tambah er sekarang ada walikota bandung Ridwan kamil dan yoyok Riyo SudibyoBupati batang, namun karena media khususnya televisi tidak begitu menggembor gemborkan, maka hanya tersisa pemimpim yang menjadi media darling , entah kapan merekaa akan unjuk gigi.... jadia silahkan sikapi dengan bijak dan kepala dingin....

 
        
  
Marilah kaum muslimin melihat realita yang terjadi. Cobalah renungkan sejenak, bagaimana nasibnya nanti jika akhirnya pemimpin non muslim yang akan maju sebagai pewaris kekuasaan.
Hanya Allah yang memberi taufik.



Selasa, 08 Februari 2011

MENGAPA SUBUH ADA QUNUT

  Ada sebagian pendapat yg menilai bahwa membaca doa qunut pada shalat subuh bid'ah , karena menurut nabi saw, tidak pernah menjalankanya ? untuk mengetahui kebenaranya perlu dijelaskan lebih jauh ... berikut sedikit penjelasan untuk membuka wawasan kita.

PENGRTIAN QUNUT
kata qunut berasal dari kata bahasa ARAB " قنت  - ىقنث - قنوت " yg artinya ta'at atau tunduk.
Adapun Qunut menurut syara adalah : berdiri lama shalat dengan membaca Doa Qunut { Mu'jam al-Wasith II/671 }
Lafadh qunut diartikan khusyu dalam shalat , tersebut dalam  Firman اللة     "Peliharah segala shalatmu dan periharalah shalat wustha. berdirilah karena Allah dalam shalatmu dengan khusyu "{ al -Baqarah : 238 }

Anas bin Malik ra berkata :
انة صلة علىة وسلم زفع ىدىة فى القنو ت   رواه البىهقى { سنن البىهق   ٢١١}

"Adalah Nabi saw mengangkat kedua tanganya disaat membaca Do" a qunut" HR. Baihaqi { Sunan Baihaqi II/211 }

MACAM-MACAM QUNUT
dalam syariat Islam terdapat 3 macam qunut , semuanya dilakukan  oleh Nabi saw , dan dianjurkan melakukannya pada waktu dan posisinya masing masing ketiga macam qunut itu adalah :

QUNUT SUBUH
Qunut Subuh adlah membaca Do'a Qunut pada shalat subuh pada raka'at terakhir setelah bangun dari ruku' sebelum sujud. jumhur ulama berpendapat bahwa membaca Do'a Qunut pada shalat subuh Sunah. sedangkan  imam syafi'i berpendapat Sunnah muakkadah dan bila kelupaan harus diganti dengan sujud sahwi.
Karena Do'a qunut subuh selalu dikerjakan oleh Nabi saw, pada setiap shalat subuh tidak pernah meninggalkan sampai akhir hayatnya .
Aadapun dalil-dalil yang dianjurkan qunut
1. Nabi saw, dan para sahabatnya tidak pernah meninggalkan membaca Do'a Qunut pada setiap salat subuh hingga akhir hayatnya. Anas bin Malik ra berkata :

ان النبي صله عليه وسلم قنت شهرا يدعو عليهم ثم ترك فاما في الصبح فلم يزل يقنت حتى قارق الدنيا " زوهال بيهقي والدرقتني { المجمو ع ج٣ص٥٠٤}

" Sesungguhnya Nabi saw, Qunut nazilah sebulan penuh, kemudian beliau tinggalkan Qunut Nazilah tsbt, Adapun Qunut subuh beliau tidak meninggalkan sampai akhir hayatnya " HR. Baihaqi dan Daruquthny { al-Majmu' IV/504 }

2.Nabi saw, dan para sahabatnya setiap shalat subuh membaca Do'a qunut " Allahummahdinii fiiman hadait " dalam hadits dari Abu hurrairah ra, diceritakan

كا ن زسول الله صلله عليه وسلم اذا رفع رأسه من الركوع فى صلآة الصبح فىالركعة الثنا نية رفع يديه فيدعو بهذا الدعا ء " اللهم هد نى فيمن هديت إلى آخر " زواه الحا كم وصححه
" Adalah Nabi saw, bila bangub dari ruku' dalam shalat subuh pada rakaat yg kedua beliau mengangkat kedua tangannya maka beliau membaca do,a qunut " Allaahummahdinii fiiman hadait wa-'aafinii fiiman afait." { HR. Hakim }
3. Nabi saw, mengajarkan kpd Ibnu Abbas Do'a Qunut yg dibaca dalam setiap shalat subuh. dalam hadits dari Ibnu Abbas ra, diceritakan , ia berkata :

أن النبي صلله عليه وسلم كان يعلمهم هدا الدعاء ليدعوا به في القنوت من صلآة الصبح  "رواه البيهقي  ( سنن ليهقى ج٢ص٢١٠)
" sesungguhnya Nabi saw , mengajarkan do'a Qunut pada shalat subuh " HR. Baihaqi { sunan Baihaqi II/211}
4. Nabi saw, disaat membaca Do'a qunut pada shalat subuh beliau mengangkat kedua tanganya , sambil berdoa . dalam Hadits dari Anas bin malik ra, ia berkata :

أنه صل وسلم رفع يديه فى القنو ت "{ رواه البيهقى سنن البيهقى ج٢ص ٢١١}

" Nabi saw, mengangkat kedua tangannya disaat membaca Do'a Qunut subuh " HR Baihaqi { Sunan Baihaqi II/211 }
5. Nabi saw, dan para sahabatnya membaca doa Do'a Qunut dala shalat subuh dan juga shalat witir dengan Do'a Allaahummahdinii fiiman hadaita..." dalam Hadits Ibnu Abbas ra, ia diterangkan  ia berkata :

أن النبي ص, يقنت فى صلاة الصبح وفى الو تر بهؤلاء كلما ت " اللهم هدني فيمن هد يت إلى آخره" رواه البيهق ( سنن البيهق ج٢ص٢١٠ )
" Nabi saw , membaca doa Qunut dalam shalat subuh dan pada shalat witir dan doa yg dibaca adalh : " Allaahummahdinii fiiman hadait...." HR Baihaqi { Sunan Baihaqi II/210 }

Senin, 13 Desember 2010

ASAL MUASAL MAULID NABI SAW

Asal kata MAULID
bahasa Arab: مولد، مولد النبي‎, mawlidun-nabī) yg artinya peringatan hari lahirnya Nabi "MUHAMMAD SAW ".perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.


KENAPA KITA HARUS MEMPERINGATI MAULID NABI SAW.
Ada sebuah cerita yg diriwayatka oleh seorang perawi ( yg meriwayatkan )  hadits ( semua ucapan yg diucapkan ole baginda "RASULULLAH SAW" , ketika itu Sayyidina ABBAS yg merupakan Paman dari RASSULULLAH SAW bermimpi , dan didalam mimpinya beliau memimipikan Abu Jahal ( paman Nabi yg  memusuhi nabi ) dia dimasukan ke dalam neraka abadi kekal selamanya, tapi dia mendapat pengampunan setiap hari senin, yaitu hari dimana tepat RASULULLAH dilahirkan, maka ditanya abu jahal oleh sayyidina Abbas , apa hal yg mnimpa engkau ini, lalu abu jahal menjawab aku dimasukan Allah kedalam neraka ini abadi karena aku tidak mengimani kepada agama yg dibawa oleh keponakanku yaitu muhammad, tapi aku diberi keringanan oleh Allah setiap hari senin aku diberi air dari jari tengah ku dan  siksa terhadapku dihentikan selama setiap hari senin, lalu sayyidina Abbas bertamya kembali memengnya apa yg telah engkau lakukan lakukan shingga mendapat keringanan tersebut. lalu abu jahal menjawab ketika aku masih hidup di dunia aku merasa sangat senang dengan kelahiran keponakanku itu ( Nabi Muhammad saw ) sehingga saking senangnya aku memerdekakan hamba sahaya ( budak belian ), padahal abu jahal ini tidak beriman sama sekali dengan apa yang dibawa ole h Rasulullah Saw , karena dia ( abu jahal ) merasa agama nenek moyangnyalah yg paling benar ,  Nah............. timbul suatu pertanyaan , jika yang tidak beriman saja hanya merasa senang saja ,bahkan dia ( Abu jahal ) paling sengit memusuhi Rasulullah dapat keringanan dan keberkahan di dala kuburnya , lalu mengapa kita selaku umat yang meyakini dan beriman kepada Allah dan rasulnya tidak melakukan hal yg sam atau bahkan lebih dari yang dilakukan oleh abu jahal tadi, maka dari itu ulama sallaf sepakat untuk mengadakan maulid Nabi besar MUHAMMAD SAW , mimpi memang tidak bisa dijadikan sandaran yg kuat untuk dijadikan acuan yg baku , namun perlu diketahui bahwa orang yg bermimpi kemudian meriwayatkan adalah orang-orang  soleh dan WARRA ( menjaga dari yg subhat dan yg haram). Wallahu A'lam ( hanya Allah yg tahu )

ISLAM

Islam pertama kali disebarkan di negara jazirah arab, sekarang yang lebih  dikenal dengan nama negara SAUDI ARABIA , tepatnya di kota mekah sebuah kota kecil yg dikelilingi bukit dan berlembah,adapun Islam berkembang dan diturunkan oleh Allah Saw melalui Rasull ( utusan ) yaitu Nabi MUHAMMAD SAW, dengan kurun waktu 22 tahun 2bulan dan 22 hari.
Awal penyebaran islam dilakukan secara sembunyi -sembunyi kemudian barulah setelah beberapa lama dengan diturunkan nya ayat yg menerangkan agar dakwah dialkukan secara terang terangan, maka islam disebarkan dengan cara didakwahkan ( diberitahukan secara terang-terangan oleh baginda Rassulullah saw dan para Sahabat radiallahu nganhum hingga ke seluruh pelosok dunia.
  Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Kata Islam merupakan penyataan kata nama yang berasal dari akar triliteral s-l-m, dan didapat dari tatabahasa bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk." Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."[7] Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."[8] Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.[9]
Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'Muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" dalam bahasa Indonesia.

Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "Laa ilaha illallah, Muhammadar Rasulullah" - yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mewahyukan al-Qur'an kepada Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin (Penutup Para Nabi) dan menganggap bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.[10] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai pembaharu dari keimanan monoteistik dari Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya (untuk lebih lanjutnya, silakan baca artikel mengenai Para nabi dan rasul dalam Islam). Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[11]
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup mereka yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya.[12] Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim.[13][14] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.
Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[15] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.[16]

Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.[18]
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucap dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

[sunting] Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar

Ajaran Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebahagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[19] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, adalah negara Muslim terbesar berdasarkan populasinya.[20]
Negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan sedangkan negara dengan mayoritas Islam Syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara Sunni dan Syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dan peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Muhammad). Namun secara umum, baik Sunni maupun Syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.

[sunting] Allah

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid-kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; kebanyakan ilmuwan[rujukan?] percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh ' (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh '), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari Arami Alāhā.[21] Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah
Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana pada Surah Al-Ikhlas yang terjemahannya adalah:
  1. Katakanlah: "Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
  3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Nama "Allah" tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur'an dikatakan:
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat". (Asy-Syu'ara' [42]:11)
Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku". (Ta Ha [20]:14)
Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme.
Mengutip al-Qur'an, An-Nisa' [4]:71:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".
Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syu'ara' [42]:11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur'an.

[sunting] Al-Qur'an


Al-Fatihah merupakan surah pertama dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur'an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur'an yang ada saat ini, pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.[22]
Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung).[23] Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).
Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun hasil usaha mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.

[sunting] Nabi Muhammad S.A.W

Muhammad (570-632) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.
Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.

[sunting] Sejarah

[sunting] Masa sebelum kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikan satu antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka'bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

[sunting] Masa awal


Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).
Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.
Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah dasar permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah umat Islam. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

[sunting] Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang baik diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

[sunting] Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah", atau kadang-kadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.
Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.
Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

[sunting] Demografi

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 milyar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. [1]. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim [2]. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat. [3]

[sunting] Tempat ibadah

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain salat berjama'ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur'an) dan lain sebagainya.